kinaryosih dan niniek l karim ( foto ; kicky herlambang/guritanews.com )

Ku Tak Percaya Kamu Mati : film drama keluarga, ada horornya juga loh!

GuritaNews – Sutradara Wimbadi semestinya mampu mengerahkan tenaganya untuk memvisual cerita film ‘Ku Tak Percaya Kamu Mati’ (Tentrem Sembilan Film) menjadi lebih kena sasaran untuk menghibur.

Namun demikian, meski film ini nyaris terperangkap dalam ‘absurdisme’ treatment cerita, tetap masih terselamatkan berkat penampilan para bintangnya yang lumayan cakap.

Nama Kinaryosih, tetap masih jualan untuk sebuah film.

Dengan kualitas olah peran yang dimilikinya, ‘Ku Tak Percaya Kamu Mati’ tetap hidup secara film, walau penampilan Kinaryosih tampak biasa saja.

Saya (penulis) -dalam durasi sekitar 45 menit- masih mencari celah kemana film yang di diganjar sebagai tontonan untuk ‘Semua Umur’ ini menuntaskan dramaturginya.

Mengawali dengan polesan drama lalu di pertengahan Wimbadi mencoba mengadukkan warna horor (meski tak menyeramkan) dalam  ‘Ku Tak Percaya Kamu Mati’, meski sekali lagi masih bisa diselamatkan tanpa kekonyolan.

Premis yang dinantikan bahwa sejatinya film ini melemparkan pesan moral dan kekuatan hubungan antara anak dan orang tua hanya mampu sepenggal adegan saja terlampir.

Renie Arumsari ( foto : kicky herlambang )

Namun paling tidak, meski tampak dragging alur ceritanya, ‘Ku Tak Percaya Kamu Mati’ , masih melaju ringan apalagi keberanian secara total meleburkan gambar-gambar indah yang telah di proses lewat laboratorium grading colour.

Hal ikhwal film ‘Ku Tak Percaya Kamu Mati’, berkutat soal kemtian bagong (Raditya Evandra) bocah kecil yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, harus meregang nyawa saat dirinya alami kecelakaan tragis , di tabrak motor.

Dari sini sebenarnya, saya (penulis) mulai mengamati kemana lajunya cerita ‘Ku Tak Percaya Kamu Mati’ bakal mengayun.

Secara perlahan dan meyakinkan, bagong yang telah mati, mulai menjadi sentra polemik, mulai dari sahabatnya, Fantar (di perankan Wrehatnala) yang sangat tidak percaya atas kematian Bagong, lalu Riksanti (diperankan cukup baik Farah Maudina) -ibu Bagong sendiri- yang sakit terkulai lemah tak bersuara di kursi roda, hingga berakhir dengan konflik misteri dan teror yang di alami pasangan suami isteri ; Hartok ( Daniel Rizky) dan Tinuk ( Renie Arumsari).

Sekedar catatan film ‘Ku Tak Percaya Kamu Mati’ cukup memuat banyak scene  bagi artis pendatang baru Renie Arumsari, di banding perannya dalam film film sebelumnya.

Nama Renie Arumsari juga tercatat tampil sebagai cameo dalam film horor Nini Thowok (2018)

Saya tidak akan men-spoiler bagaimana cerita film ‘Ku Tak Percaya Kamu Mati’   mengalir hingga di penghujungnya.

Tapi saya sangat kaget, saat di menit-menit terakhir treatment ‘twist’ ditampilkan dengan tepat waktu, meski Wimbadi ‘ogah’ menempelkan scene flashback untuk melengkapi ‘twist’ tersebut.

Beberapa scene humor pun di tampilkan cukup trampil lewat dialog-dialog berbahasa Jawi khas Yogyakarta.

Alhasil, terbungkuslah drama keluarga (sebenarnya) dengan sedkit cipratan horor.

Entah kenapa harus ada warna horor dalam film ini, mungkin awalnya -bisa saja- dugaan saya film ini memang ingin di buat untuk genre horor rencananya.

Tim DOP juga saya acungi jempol atas keberhasilannya meleluasakan gambar-gambar dramatik dan indah, meski juga tidak perlu royal dengan gambar close up.

Apun tentang ‘ritual’ cerita yang diinginkan ‘Ku Tak Percaya Kamu Mati’ , kembali kepada produser sebagi eksekutor, dialah yang menentukan seperti apa film ini di bungkus. (Q2)

Ulasan ini juga di muat di pojoksinema.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *