pretty boys usai screning

Pretty Boys : karya terbaik bagi para debutan

GuritaNews – Babak baru dalam industri film tanah air masih berlangsung saat banyak pelaku ‘pendatang baru’ dengan karyanya, terutama bagi mereka yang berhasrat memperkenalkan diri sebagai sineas dan film-maker lewat kemasan kualitas dan mutu, hingga menuai banyak pujian maupun kritik pedas.

Film Pretty Boys adalah contoh nyata, sebuah karya drama dengan balutan komedi segar yang di garap ringan -juga terpoles dengan baik- oleh duet ‘debut’ produser : Deddy Mahendra Desta (produser) dan Vincent Ryan Rompies (creative produser), lewat karya yang juga dikemas dengan trampil oleh sutrdara debutan Tompi.

Tiga nama inilah yang menjadi catatan penting untuk masuk dalam sejarah kharafiah perfilaman nasional, setidaknya mereka mengukuhkan diri untuk tampil sebagai penghembus atmosfir segar dalam industri kreatif seni.

Tompi dengan tangan dinginnya sebagai sutradara berhasil menyampaikan serentet peristiwa humanis pada instalasi cerita ‘menghibur’ yang cukup bermuatan pesan.

Bukan tidak mungkin film Pretty Boys yang dilahirkan oleh duo studio : Anami Films dan The Pretty Boys Pictures yang lahir sebagai tontonan -dengan kekuasaanya- menghibur penonton bakal menjadi ruang pujian publik.

Nyaris, sepanjang durasi 95 menit, saya (penulis) tak menemukan ‘dragging’ .

Kompromi duet Desta (produser) dan Vincent (creative produser), serta tangan dingin Tompi dan campur tangan Cesa david Luckmansyah sebagai Co-Producer telah meletupkan kesepkatan bahwa Pretty Boys harus menjadi film menghibur dengan formula dahsyat.

Ke-empat orang inilah berhasil mengerucutkan ‘intelektual seni’nya untuk membungkus sebuah karya terbaik mereka.

Namun demikian sejatinya sebuah karya seni bikinan manusia tentu tak luput dari kelemahan.

Meski tak banyak saya mencatat, seperti; olah akting Desta yang tampak datar saja, lalu penempatan ‘curve’ pada dramaturgi yang sempat saya rasakan terlalu cepat untuk ‘up and drop’, rakitan chemistry antar pemain yang seperti ‘rela-rela’ saja berlalu tanpa kesan pada beberapa scene.

Tapi masih saya ‘ampuni. dengan level kesadaran hati, bahwa ini hanya sebuah film yang dibuat untuk menghibur banyak penonton!

Satu hal yang tak ingin saya lewatkan adalah melongok penampilan aktor gaek Roy Marten, yang berkuasa dengan performa terbaiknya dalam Pretty Boys.

Jika Festival Film Indonesia yang segera di gelar beberapa bulan kedepan men-sematkan nama-nama nominasi aktor pemeran pendukung terbaik, maka septatutnyalah Roy Marten masuk nominasi dan layak menyabet Piala Citra pertamanya!

Atau! FFI tahun ini juga punya kesempatan (setidaknya) memberikan penghargaan khusus kepada Roy Marten seperti Lifetime Achievement (pengabdian di dunia film seumur hidup).

Tapi sudahlah, kita hentikan bahs ranah festival kebanggaan orang indonesia tersebut.

Kembali ke Pretty Boys, yang bakal ditayangkan pada 19 September ini, patut mendapat apresiasi tinggi di masyarkat.

Para ‘orang muda’ yang telah membuang tenaga untuk mempersembahkan sebuah karya bermutu telah memberikan penghargaanya kepada industri tanah air.

Film inilah yang menyasar kepada premis ‘kegalauan’ bahwa betapa industri pertelevisian sudah sangat mengkhwatirkan dengan keleluasaan aturan mainnya.

Alhasil, Pretty Boys sukses menyampaikannya dengan ringan tapi menohok! (Q2) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *