once upon a time in hollywood

Once Upon a Time in Hollywood : menyimak absurdisme industri kapitalis saat ini

GuritaNews – Era ‘ngambang’ kehidupan aktor televisi Hollywood awal 70-an, sebenarnya cukup trampil di gambarkan sutradara kaliber Quentin Tarantino lewat film ke sembilan berjudul Once Upon a Time in Hollywood.

Dengan memajang sederet aktor kondang seperti Leonardo Dicaprio, Brad Pitt, Kurt Russell, Al Pacino, Margot Robbie dan lainnya, film Once Upon a Time in Hollywood mencoba mengungkap fakta sebenarnya nasib para aktor film di Hollywood dari dulu hingga sekarang.

Hollywood selalu melahirkan peradaban baru dengan atmosfir industri kapitalisnya, hal ini juga menjadi penyebab betapa nasib para aktor yang puluhan tahun dengan jam terbangnya harus tukar tempat dengan para pendatang baru dengan jutaan penggemarnya , yang diraih secepat kilat!

Praktis kehidupan para aktor yang di eranya menjadi legenda  harus perlahan mundur untuk memberi kapasitas kepada mereka yang ingin tampil seperti para pendahulunya.

Meski Quentin (bagi saya) telak membuat Once Upon a Time in Hollywood hanyalah tontonan ‘dragging film’ pun demikian adanya film ini adalah fakta yang terjadi saat ini dengan bungkusan intelektualitasnya.

Persaingan ketat di industri hollywood dari mulai produksi film, jaringan penayangan, hingga menjamurnya sutradara pendatang baru yang tiba-tiba sukses dan aktor segar yang juga punya puluhan juta penggemar, adalah kenyataan modernitas industri film pabrikan Hollywood yang tak bisa di kesampingkan.

Pitt, Al Pacino, DiCaprio

Hollywood boleh disebut berjasa melahirkan banyak bintang kondang, tapi Hollywood juga punya dosa dengan membangun ‘makam’ generasi showbizz.

Pada masa kini, tak banyak aktor ternama yang di era 80an hingga 90an sarat popularitas dan padat karya, harus menerima nasib ketika singgasana kejayaan mereka harus di rebut dengan para pendatang baru tadi.

Betapa kejam? ya bisa jadi! begitulah industrti memperlakukan talenta.

Betapapun hebatnya pamor seorang Rick Dalton ( DiCaprio), harus punya ketakutan yang sarat, ketika ia terjerembab dalam etalase paranoid seorang bintang tenar.

Dalton harus bertempur dengan angannya sendiri untuk bertahan sebagai aktor bintang koboi televisi di masanya.

Dalton digambarkan sebagai sosok yang punya ketakutan tinggi dibalik kebersahajaan dan kemewahannya di Hollywood.

Begitupun dengan Cliff Booth (Brad Pitt), pemeran pengganti Dalton dalam film, yang juga hanya bisa pasrah dengan nasibnya yang hanya bisa menajdi pemeran pengganti saja.

Booth adalah veteran yang di isukan telah membunuh istrinya sendiri.

Quentin juga melengkapi ruang cerita Booth, dengan menggambarkan sosok pria jantan yang punya seni belairi hingga ia mampu mengalahkan Bruce Lee (Mike Moh ) di lokasi shooting.

Namun Botth juga sadar betul bahwa Hollywood teramat kejam untuk tidak memberinya kesempatan menjadi aktor laga yang hebat.

Penampilan duo aktor gaek Al Pacino ( berperan sebagai Marvin Schwarz, agen aktor internasioal) dan Kurt Russell, menjadi pesan tersendiri, meski dengan peran secuil tapi tetap prima penampilannya.

Namun yang membuat saya sadara, bahwa mereka berduapun tak lagi memiliki kebinarannya , ketika para aktor berusia 40an mengambil alih kejyaan mereka.

Al dan Russell satu contoh nan pasti, bahwa industri film Amerika memang sedang tak berselera dengan karirnya.

Buktinya, tak lagi banyak penampilan mereka belakangan ini.

Film One Upon a Time in America bertutur dengan kompleksitas problem industri kapitalis Hollywood.

Namun, nyaris secara keseluruhan dengan durasi yang bertele-tele, Once Upon a Time in America telah menyuntikkan atmosfir baru dalam peradaban Hollywood yang sedang tenggelam dalam era absudirsme.

Duet keren DiCaprio dan Pitt menjadi dagangan lezat dalam film ini, meski sekali lagi, nontonlah dengan perlahan dengan kesadaran menyimak yang tinggi, jika tidak anda akan tertidur sepanjang durasi… (Q2)

Artikel ini juga bisa anda simak di pojoksinema.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *