preskon zeta by kicky herlambang

Lelahnya Zeta mengemas keseruan film zombie menjadi drama ‘saja’

GuritaNews – Film Zeta pabrikan studio -pendatang baru- Swan Studio, memang tak banyak mengalirkan atmosfir efek kejut atau bahkan terapan laga yang gila-gilaan serta bumbu suspens dan thriller yang banyak di tampilkan seperti layaknya film-film bernafaskan Zombie alias mayat hidup.

Alhasil sepanjang durasi Zeta hanya berkelit soal drama antara ibu dan anak, serta gagasan ‘klasik’ untuk menyampaikan emosi humanis pada beberapa scene.

Namun secara terang benderang, kiprah Amanda Iswan atau biasa di panggil Mandy -sebagai debutnya di bangku sutradara dan penulis cerita- sangat cemerlang dengan membungkus Zombie sebagai alternatif -boleh di bilang pilihan ‘mahal’.

Pasalnya memang belum ada lagi rumah produksi ( beberapa tahun lalu ada film Kampung Zombie) yang berani keluar dari zona nyaman mereka selain membuat horor dan drama.

Pembuatan film dengan menggunakan media Zombie hanya ada di tempat kelahiran mereka yakni Hollywood.

Sebab publik Amerika cukup ‘love’ banget dengan Zombie, dari sanalah mayat hidup ini di lahirkan lewat sinema.

Era kebangkitan Zombie di bioskop pada tahun 2000an dialami oleh film Resident Evil (2002) dengan mengeduk penghasilan sekitar 100 juta dolar lebih, serta film berbiaya murah meriah (sekitar 8 juta dollar Amerika dengan level angka box office 82 juta dolar) yakni ‘28 Days Later‘ tahun 2002, sebelum akhirnya banyak film zombie Hollywood berjangkitan di bioskop.

Natasha Gott by kicky herlambang

Seperti halnya ketika banyak sineas dan produser membuat film horor dengan menggunakan karakter Drakula dan Vampir, maka sebenarnya karakter tersebut lahir di benua Eropa.

Hanya saja Hollywood juga punya kehendak untuk membuat tontionan horor-thriler dan sebangsanya dengan lebih komersil dan keren pastinya.

Film Zeta yang dibintangi : Cut Mini, Jeff Smith, Dimas Aditya, Edo Borne, Natasha Gott dan sebagainya, memang tidak menempatkan diri sebagai film dengan penuh taste of thriller atau bahkan horor.

Zeta tidak memasuki area horror atau misteri bahkan juga tidak menjadikan suspens sebagai prinsip gereget cerita.

Alhasil Zeta hanya berkutat dengan santai saja alias monoton ; aksi dan drama yang cukup dragging.

“Zeta memang gak saya bikin sebagai film thriller atau horor sekalipun. Zeta adalah drama tentang hubungan ibu dan anak, serta lainnya,” tegas Mandy, saat jumpa pers usai screening Zeta di Jakarta .

Dalam persoalan penggunaaan efek CGI, Zeta juga tak berbicara banyak, meski patut saya catat, penyematan efek ‘bloody’ Zeta cukup halus.

Namun sekali lagi, terlepas dengan keterbatasan film ini dengan aliran ceritanya, tetap sebuah karya yang patut saya apresiasi.

Lewat keberanian Mandy , maka Zeta pun juga menjadi pelopor cerita film dengan banyak memuat edukasi ilmu pengetahuan.

Dialog-dialog ala ilmu biologi, cukup telak tersampaikan oleh Zeta.

Hanya satu catatan saya , sebegitu diamnya saya menunggu golden scene atau khas kelayakan film aroma Zombie ; kenapa Zeta malu-malu menempelkan formula jump-scare? Atau bahkan keseruan aksi ala mayat hidup yang semestinya mampu di maksimalkan?

Padahal efek kejut dalam film Zombie terkenal paling gila.

Zeta mungkin sedikit lupa bahwa larutan drama juga tak perlu kelewat leluasa membahas hal-ihkhwal kenapa jadi begini dan begitu, hingga eksekusi untuk mengintalasi jump-scare terkesampingkan.

Banyak film horor menggunakan metode menakuti dan mengagetkan audiens dengan menempelkan frame-frame jump-scare yang lazim di pakai para sineas Zombie.

Makanya, banyak sines film horor saat ini masih bertahan dengan tempelan jump-scare, kalau zombie saja bisa nakutin penonton kenapa horor dengan nuansa cerita gelapnya tidak mampu?

Begitulah industri.. (Q2)

Ulasan ini juga dapat anda simak di pojoksinema.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *